Hukum Jual Beli Tokek

Al-Ustadz Abu Muawiah

Tanya:
Apa hukum jual beli tokek dengan alasan untuk dijadikan obat, mengingat amalan ini sedang marak akhir-akhir ini.
Abu Amr ( 08524262 ????)
Jawab:
Pertama-tama perlu diketahui bahwa ucapan para ulama yang ada dalam masalah ini adalah dalam masalah cicak, hanya saja ucapan mereka itu juga berlaku bagi tokek karena keduanya dihukumi sama oleh para ulama. Imam Asy-Syaukani – rahimahullah- berkata dalam Nailul Authar (8 /295), “Cicak (arab: al-wazg) itu termasuk binatang pengganggu dan bentuk jamaknya adalah al- awzag. Sementara tokek adalah hewan yang sejenis dengannya yang berbadan lebih besar.”
Kemudian, tokek/cicak adalah hewan yang haram untuk dimakan dengan tiga alasan:
1. Keduanya adalah hewan yang khabits/jelek dan bukan termasuk makanan yang thayyib/baik.
Imam Ibnu Hazm -rahimahullah- berkata dalam Al Muhalla (7 /405), “Cicak adalah salah satu binatang yang paling menjijikkan.”
Dan Allah telah mengharamkan semua makanan yang khabits dalam firman-Nya, “Dan ia menghalalkan yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk (menjijikkan).” (QS. Al-A’araf: 157)
2. Keduanya adalah hewan yang fasiq.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash dia berkata:
أَنَّ النبيَّ أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغَ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا
“Sesungguhnya Nabi -shallallaahu alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh cicak, dan beliau menyebutnya sebagai fuwaisiq (binatang jahat).” (HR. Muslim no. 2238)
Dan para sahabat memahami bahwa semua hewan yang dinamakan fasik maka dia haram untuk dimakan. Ibnu Umar berkata, “Siapa yang makan burung gagak? Padahal Rasulullah telah menyebutnya fasiq. Demi Allah, dia bukanlah termasuk makanan yang baik.” Diriwayatkan juga yang semisalnya dari Urwah bin Az- Zubair.
Aisyah -radhiallahu anha- berkata, “Aku sungguh heran terhadap orang-orang yang memakan burung gagak, padahal Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- mengizinkan untuk membunuh gagak dan menyebutnya fasiq. Demi Allah, dia bukanlah termasuk makanan yang baik.” Lihat ucapan ketiga sahabat ini dalam Al-Muhalla: 7 /404
Maka dari tiga ucapan sahabat ini menunjukkan bahwa semua hewan yang fasik dan yang diperintahkan untuk dibunuh maka dia juga haram untuk dimakan, wallahu a’lam.
3. Keduanya diperintahkan untuk dibunuh. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:
مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ
“Barangsiapa yang membunuh cicak pada pukulan pertama maka dituliskan untuknya seratus kebaikan, jika dia membunuhnya pada pukulan kedua maka dia mendapatkan pahala kurang dari itu, dan pada pukulan ketiga maka dia mendapatkan pahala kurang dari itu.” (HR. Muslim no. 2240)
Banyak di antara ulama yang menyebutkan sebuah kaidah yang berbunyi: Semua hewan yang boleh dibunuh maka dia haram untuk dimakan, dan hal itu menunjukkan pengharaman, karena perintah untuk membunuhnya -padahal telah ada larangan untuk membunuh hewan-hewan ternak yang boleh dimakan tapi bukan bertujuan untuk dimakan-, menunjukkan kalau dia adalah haram. Kemudian, yang nampak dan yang langsung dipahami bahwa semua hewan yang Rasulullah  izinkan untuk membunuhnya tanpa melalui jalur penyembelihan yang syar’iyah adalah hewan yang haram untuk dibunuh. Karena seandainya dia bisa dimanfaatkan dengan dimakan maka beliau pasti  tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya, sebagaimana yang jelas terlihat. Lihat Bidayah Al-Mujtahid (1 /344 ) dan Tafsir Asy-Syinqithi (1 /273)
Jadi, tokek/cicak adalah hewan yang haram untuk dimakan. Ibnu Abdil Barr berkata dalam At- Tamhid (15 /186), “Dan cicak/tokek telah disepakati haram memakannya.”
Setelah ini dipahami, maka sungguh Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah bersabda:
إنَّ الله إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيءٍ حَرَّمَ عَلَيهِمْ ثَمَنَهُ
“Sesungguhnya jika Allah mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia akan mengharamkan harganya.” (HR. Ahmad: 1 /247 , 322 dan Abu Dawud no. 3488)
Maksud ‘diharamkan harganya’ adalah termasuk di dalamnya larangan memperjualbelikannya, menyewakannya, dan semua perkara yang menjadikan dia mempunyai harga.
Dari keterangan yang telah lalu juga dipahami bahwa cicak/tokek bukanlah termasuk harta secara syar’i dia diperintahkan untuk dibunuh, seandainya dia adalah harta maka tidak mungkin dia diperintahkan dibunuh karena itu berarti perbuatan membuang harta dengan percuma. Dan para ulama menyebutkan kaidah yang berbunyi: Semua yang bukan harta maka tidak boleh mengeluarkan harta untuknya.
Kesimpulannya, cicak/tokek haram untuk diperjualbelikan dengan dua alasan: Karena dia haram untuk dimakan dan karena dia bukanlah harta sehingga tidak boleh mengeluarkan harta untuk membelinya.
Adapun membolehkannya dengan alasan akan dijadikan obat sehingga ini termasuk perkara darurat yang bisa menjadikan hal yang haram itu dibolehkan, maka ini adalah dalih yang sangat lemah dengan dua alasan:
1. Kaidah ‘keadaan darurat menjadikan hal yang haram diperbolehkan’ hanya bisa diterapkan jika tidak ada jalan lain untuk menghilangkan keadaan darurat itu kecuali dengan mengerjakan hal yang haram itu. Tapi kenyataannya, masih ada jalan lain untuk mengobati/menyembuhkan penyakit yang katanya bisa disembuhkan dengan tokek.
2. Kaidah ini tidak berlaku dalam masalah pengobatan, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menegaskan:
إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِي حَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat kalian pada sesuatu yang haram.” (HR. Ibnu Hibban -sebagaimana dalam Al- Mawarid no. 1397 dan Al-Baihaqi (10 /5) dari Ummu Salamah)
Dari Abu Ad-Darda` beliau berkata:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوُوْا وَلاَ تَدَاوُوا بِحَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah -Azza wa Jalla- menurunkan penyakit dan obat dan Dia menjadikan obat untuk setiap penyakit. Maka berobatlah kalian dan jangan kalian berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud no. 3874 dan Al-Baihaqi (10 /5))
Abu Hurairah juga berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ
“Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- melarang menggunakan obat yang khabits/buruk.” (HR. Abu Daud no. 3870)
Wallahu a’lam bishshawab.

Perihal blog aneka ragam
saya adalah seorang pemula dalam dunia bloger. sambil menulis, saya juga sedang belajar dan mendalami tentang dunia bloger. kepada rekan2 diharapkan bantuannya dalam mempelajari dunia bloger

11 Responses to Hukum Jual Beli Tokek

  1. nikmatnya menjadi muslim mengatakan:

    Intinya..mereka yg menyebut tokek halal hanyalah sbg tameng, atas apa yg mereka kerjakan untuk mendapatkan uang.itulah bisnis yg mereka krjakan,,,apabila tokek haram, mereka brpikir pendek,,( mau bisnis apa lg…?) Wallahu’alam.

  2. jendral mengatakan:

    matio whae kono lho.ribut whae….!.sedelokneh ki meh kiamat.

  3. ASU mengatakan:

    TEKEK HALAL TO LENG!!!!.CELENG!!!!

  4. susilowati mengatakan:

    betul saudaraku, pekerjaan rumah kita tentang persatuan dan kesatuan masih banyak. Kita beda baju aja repot, beda partai aja repot, beda sedekap sholat aja ribut, beda sedikit aja menyulut persatuan dan kesatuan. Padahal qur’an dan hadits kita sama, padahal karena perpecahan justru saudara kita terlantar bahkan di dholimi. Mari kita kembali pada persatuan dan kesatuan, ukhuwah islamiyah. Jangan gara2 tokek atau cicak jadi pecah dan saling memakai. ALLOOHU AKBAR

  5. sunoto mengatakan:

    SAUDARAKU SEIMAN DAN SEISLAM KITA JANGAN SAMPAI DI DALAM MENGELUARKAN PENDAPAT SEBAIKNYA JANGAN DENGAN EMOSI DALAM BAHASA LAIN DENGAN KEMARAHAN, KARENA AKAN MEMBUAT BUTA MATA HATI KITA YANG AKAN BERPENGARUH PADA SELURUH BADAN KITA. HORMATI PENDAPAT SAUDARA KITA KALAU MEMANG BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN. BUAT APA KITA MERIBUTKAN TENTANG CICAK ATAU TOKEK KALAU PERSATUAN KESATUAN UMAT ISLAM MENJADI PECAH. MAAF

  6. ANTI ORANG BODOH DAN GELO mengatakan:

    BODOH SEKALI ANDA TOKEK FANS KLUB. JADI MUI ITU LBH MULIA DARI RASUL? SEMOGA ALLAH MEMBERIMU HIDAYAH SEBELUM AZABNYA DATANG KEPADAMU

  7. muhammad mengatakan:

    mengapa para ulamak mengharamkan tokek disamakan dengan cecak? padahal tokek jelas berbeda, dari segi warna, besarnya, kulitnya, dan hadis yang diambil jelas di tujukan pada cecak. dan tidak ada cecak besar, tokek ya tokek, cecak ya cecak.dari segi manfaat. Jelas cecak tidak ada manfaatnya, bahkan mengganggu terutama dalam hal mengeluarkan kotoran kadang ia mengeluarkan kotoran di depan sajadah. Sdangkan tokek jelas manfaatnya untuk obat yang sangat mujarrab.misalnya untuk obat kulit dan obat lainnya. jadi jelas manfaatnya.kemudian hadist tentang cicak yang diperintahkan untuk membunuhnya ada asbabul wurutnya. kanapa nabi menyuruh membunuh cicak? karena waktu itu ketika rasul dicari oarng kafir seakan akan cecek berbunyi rami-rami seakan akan memberitahu tentang keberadaan rasul. Sadangkan tokek belum pernah mengganggu nabi. Coba cari bahasa arabnya tokek dan cecak apakah sama atau beda . jadi menurut pandangan saya ………TOKEK ITU HALAL…….. selagi tidak dijelaskan dalam Al qur,an atau hadist. Karena nabi barsabda yang haram itu jelas dan yang halal itu jelas . Alloh mengharamkan sesuatu pasti ada mudharatnya. Sekarang masalah khamar , Kenapa Alloh mengharamkan khamaer? karena memabukkan dan membahakan. jadi masalah yang tidak disebutkan dalilnya dalam alquran dan hadist secara jelas , maka itu masalh figh atau pemahaman. Dan masalah ini perlu pembahasan lebih lanjut. Sedangkan mengenai pendapat para imam, menurut saya , imam adalah manusia besa salah bisa benar. Coba simak dari pendapat para imam mazhab 4 . Merteka mengatakan : Ambillah pendapat saya apabila sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadist . Jika tidak sesuai dengan Qur,an dan al hadist maka tinggalkannlah. Sekali lagi TOKEK HALAL.
    bALAS

    • blog aneka ragam mengatakan:

      ulama mengharamkan tokek karena tokek sejenis dengan cecak. hanya berbeda ukuran. untuk masalah obat yg mujarab, bukankah masih ada cara lain selain menggunakan tokek. Allah menurunkan penyakit, pasti ada obatnya. bila emang belum ada obat lain selain tokek, maka penggunaaan tokek sebagai obat diperbolehkan, bukan dihalalkan karena dalam keadaan mendesak. untuk masalah pendapat para imam mungkin ada yg pro dan kontra, rasul mengatakan bila ada keraguan (subhat) lebih baik ditinggalkan karena didalam keraguan itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.

  8. blog aneka ragam mengatakan:

    tulisan diatas adalah sebagai referensi tentang hukum dari tokek, baik utk dimakan atau di jual beli berdasarkan pendapat dan pandangan beberapa ulama. secara resmi fatwa MUI memang belum ada. tp jika ragu tentang hukumnya maka lebih baik ditinggalkan jgn dikerjakan.

  9. tokek fans club mengatakan:

    belum ada fatwa MUI,,biarlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,betullll,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: